Rabu, 25 Juli 2018

Keindahan Puncak Bukit Njelir Di Purbalingga

Visit Purbalingga - Bukit Njelir merupakan salah satu keindahan alam di Kabupaten Purbalingga yang layak untuk kalian jelajahi. Bukit yang membatasi antara Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Pemalang ini memiliki ketinggian 1000 mdpl. Bagi pendaki pemula bukit njelir sangat recommended banget karena treknya yang tidak terlalu terjal dan menguras tenaga. 

Bukit Njelir bisa kalian tempuh selama ± satu jam perjalanan dari Golaga atau Goalawa Purbalingga.
Selama perjalanan kalian akan disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya. Melewati perkebunan dan hamparan kebun nanas akan mengurangi lelahnya perjalanan untuk sampai di puncak. Pingin tau info lebih lanjut mengenai Bukit Njelir atau paket campingnya ???
Yuuuk langsung kepoin aja di No Wa 087837000869.
 

Senin, 23 Juli 2018

Dona Wahyuni, Sosok Pencetus Kampung Warna Bobotsari

Kampung Warna Bobotsari
Visit Purbalingga - Sosok gadis asli Bobotsari ini patut menjadi contoh teladan. Meski tantangan yang dialami begitu besar, namun dia bisa membawa banyak perubahan untuk kampung yang dulunya terkesan kumuh. Adalah Dona Wahyuni De Fretes, gadis kelahiran 28 Juni 1989 ini  mampu menggerakkan beberapa pemuda di Kampung Baru Bobotsari untuk memiliki tujuan yang sama, memajukan desanya dengan mengembangkan potensi yang ada hingga tercetuslah Kampung Warna Bobotsari.

Berbagai tantangan ia hadapi dengan penuh kesabaran., tak jarang ia menuai cemoohan bahkan cacian. Namun semua dilalui dengan penuh ketabahan. Tekadnya sudah bulat, menjadikan kampung kumuh menjadi tempat lebih bermakna, menjadikan perilaku warga yang kurang baik menjadi lebih tertata. Sebuah perjuangan luar biasa yang membutuhkan proses panjang ditengah kesibukannya sebagai  bidan di  RS Goeteng Tarunadibrata Kabupaten Purbalingga.

Kampung Warna Bobotsari terwujud berawal dari keprihatinan dona sebagai pencetus adanya kampung warna.  Aktifitas yang ia jalani menjadi seorang bidan membuat ia lebih peka akan pentingnya kesehatan, terutama dilingkungan ia tinggal. Hingga akhirnya kampung yang dulunya kumuh menjadi bersih dan lebih memberikan warna untuk warganya. Tak hanya lingkungan yang jadi prioritas, karakter warga yang identik dengan premanisme, perjudian, narkoba dan minuman keras secara perlahan mulai hilang dengan adanya berbagai aktifitas di Kampung Warna.

Lingkungan yang bersih akan menciptakan hidup masyarakat yang sehat, semua bisa terwujud dengan adanya perjuangan dan kepeloporan seorang tokoh. Dan tidak salah jika akhirnya Dona Wahyuni  terpilih mewakili Kabupaten Purbalingga dalam Lomba Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dona mewakili Kabupaten Purbalingga untuk bidang Sosial, Budaya dan Pariwisata.
Dibawah ini adalah video saat tim juri dari provinsi meninjau langsung ke Kampung Warna.
 

Sekilas Tentang Berdirinya Kampung Warna Bobotsari
Bobotsari adalah sebuah kota kecamatan di Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Secara geografis berada pada ketinggian ±135 mdpl. Mempunyai batas wilayah  sebagai berikut :
Sebelah selatan  : Kecamatan Mrebet
Sebelah utara       : Kecamatan Karangreja dan Kecamatan Karangjambu
Sebelah timur      :  Kecamatan Karanganyar
Sebelah Barat      : Kecamatan Mrebet.
Luas wilayah 3228ha atau 4,16% dari wilayah Kabupaten Purbalingga.

Bobotsari merupakan salah satu kota di Kabupaten Purbalingga yang menjadi tulang punggung perekonomian sehingga dijuluki sebagai Kota Dagang. Kecamatan Bobotsari dibagi menjadi 16 desa, salah satunya Desa Bobotsari yang menjadi lokasi Kampung Warna. Kawasan Kampung Warna Bobotsari berlokasi tepat bersebelahan dengan PT. Sung Chang Indonesia atau lebih dikenal dengan Pabrik rambut palsu yaitu di JL. Pemuda RW 08, meliputi RT 01, 02 dan 03 dusun Kampung Baru dengan jumlah penduduk sebanyak 891 jiwa. Kampung Warna Bobotsari merupakan kampung wisata pertama di Purbalingga yang menjadi salah satu destinasi wisata yang tak kalah menarik dari wisata-wisata lainya yang ada di Kabupaten Purbalingga.

Awalnya bukan merupakan kampung wisata, melainkan sebuah perkampungan kumuh yang terletak di tengah kota Bobotsari dengan keadaan masyarakatnya yang seolah terisolir dari dunia luar. Minimnya perhatian dari pemerintah desa maupun kabupaten membuat sebagian besar warga mempunyai perilaku menyimpang, sebagaimana yang sering di jumpai pada pemukiman kumuh lainnya yaitu perilaku yang bertentangan dengan norma-norma sosial, tradisi dan kelaziman.

Premanisme, obat-obatan, miras dan perjudian sudah menjadi aktifitas yang sulit di lepaskan dari sebagian besar pemuda di kampung tersebut. Hampir setiap hari, tidak peduli siang atau malam mereka selalu melakukan pesta miras dan obat-obatan. Sebagai seorang tokoh pemuda yang peduli terhadap lingkungannya, dona melihat ada banyak potensi yang dapat di kembangkan untuk memperbaiki taraf  hidup warga.

Hal ini yang menjadi tantangan untuk  dona agar dapat merubah image negatif tersebut. Hal pertama yang  dipikirkan adalah bagaimana cara untuk melakukan pendekatan tanpa membuat mereka merasa tersinggung dan terusik agar dapat menumbuhkan kesadaran dan pemikiran positif dari para pemudanya. Pendekatan awal yang dia lakukan adalah dengan cara sering berkumpul dengan mereka, mendengarkan keluh kesah mereka dan  harus bisa memposisikan diri  sebagai seorang ayah, ibu ataupun kakak untuk mereka. Menasehati tanpa menggurui, mengajari tanpa merasa sok pintar. Sebenarnya, yang mereka butuhkan adalah perhatian dan kasih sayang, bukan cemoohan dari masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut akhirnya dona dapat menggerakan pemuda untuk mengikuti pelatihan di berbagai seminar tentang kerajinan tangan dan kebersihan lingkungan, artinya mereka sebenarnya tidak menutup diri dari hal- hal yang positif. Yang diperlukan hanya melakukan pendekatan secara konsisten. Dona dan para warga kemudian melakukan beberapa kali pertemuan untuk melakukan pemaparan dari ide revitalisasi kampung yang digagasnya. Bermodalkan dana pinjaman kas RW sebesar Rp. 10.000.000 yang merupakan dana jimpitan ronda, kami dan para pemuda memulai proses penataan dan pengecatan kampung.

Hampir semua lukisan 3D dan mural di Kampung Warna adalah hasil karya para pemuda yang dulunya di anggap tidak produktif. Hiasan dari barang- barang bekas juga menjadi pemandangan yang mempercantik Kampung Warna Bobotsari. Pemanfaatan barang- barang bekas sebagai ornamen merupakan salah satu strategi pengelolaan limbah rumah tangga yang bertujuan untuk mengurangi debit sampah di lingkungan tersebut. Perlahan pemukiman kumuh tersebut dapat diubah menjadi lingkungan yang bersih, indah penuh warna warni dengan perilaku warga yang lebih baik dari sebelumnya.
Setelah melalui beberapa minggu proses pengecatan dan penataan, pada tanggal 17 Agustus 2017 bertepatan pada peringatan HUT RI ke-72 dilakukan peresmian yang di sahkan oleh lurah dan camat Bobotsari. Kampung Warna Bobotsari secara resmi dibuka untuk wisatawan sejak tanggal tersebut dari pukul 08.00 WIB – 18.00 WIB pada setiap harinya dengan HTM sebesar Rp. 3.000 dan karcis parkir sebesar Rp 2.000. Dari situlah kami para pemuda kampung berusaha untuk mengembalikan dana pinjaman kas RW yang saya pinjam.

Senin, 09 Juli 2018

Golaga Makin Memikat Wisatawan Untuk Datang Ke Purbalingga

Min,,, Goalawa kapan buka,  Miiin,,, Goalawa tiketnya berapa, Miiin,,, Goalawa apa masih ada lawanya (lawa=kelelawar) . Nah... beberapa pertanyaan itu kerap kali muncul di IGnya @goalawa ataupun di Fanspage @OW.GUALAWA selama GOLAGA atau Goalawa Purbalingga melakukan pembenahan baik didalam goa maupun diluar goa. Dan pertanggal 14 Juni 2018 atau satu hari menjelang lebaran meski pembenahan yang dilakukan baru beberapa % Golaga dibuka kembali dengan tampilan lighting dan beberapa daya tarik seperti coffeeshop didalam goa yang berhasil memikat wisatawan untuk berkunjung ke Golaga. 

Dengan harga tiket semasa libur lebaran seharga Rp. 15.000,- jumlah kunjungan wisatawan ke Golaga  naik drastis. Untuk lebaran sebelumnya kunjungan wisatawan ke Golaga selama sepuluh hari tidak lebih dari 18.000 pengunjung, lebaran kali ini kunjungan wisatawan bisa mencapai 33 ribu orang selama sepuluh hari. Suatu lonjakan luar biasa untuk wisata tertua yang ada di Purbalingga. 
Kini tiket Golaga kembali normal atau masih sama seperti tahun sebelumnya yaitu hari senin - sabtu seharga Rp. 7.500,- dan untuk hari minggu Rp. 10.000,- .

Goalawa Purbalingga atau “GOLAGA” merupakan Goa yang tersusun dari batuan lava yang sangat unik dan menarik. Dari struktur batuan pembentuknya, Goa lava (Lava Tube) hanya ada di Purbalingga dan Bali. Hasil survei keguaan dengan metode Lead Frog Method dan pengukuran Chamber menggunakan metode poligon terbuka, luas ruangan Goa Lawa 6.683 meter persegi dengan panjang dari ujung ke ujung 1.200 meter. Semua bagian goa terbentuk dari lava gunung yang membeku. Lorong lava terbentuk pada aliran lava basal yang relatif encer dengan viskositas rendah, dan pada bagian permukaannya telah mengerak dan membeku. Sementara pada bagian dalamnya masih cair dan panas dengan suhu lebih dari 1.100 derajat celcius, dan tetap mengalir sehingga pada akhirnya menyisakan ruang berbentuk ruang atau tabung (tube).

Selain sebagai fenomena alam dengan karakteristik fisik dan proses yang khas, juga tersimpan kisah-kisah legenda di dalamnya. Kolaborasi antara karakter fisik dan legenda-legenda tokoh mencirikan Goa Lawa sebagai lokasi yang universal antara perilaku alam dan budaya. Bentuk-bentuk batuan dan ruang di dalam Goa Lawa menceritakan gambaran tokoh dan imajinasi mistis. Semua bagian tersebut mempunyai kisah legenda tersendiri. Memang kadang sulit untuk mengkaitkan kronologi budaya dalam legenda tersebut, tetapi legenda sudah menunjukkan bahwa Goa Lawa sebagai warisan alam sudah mendapat perhatian dan sentuhan dari manusia.

Dari cerita diatas sebenarnya namanya adalah Goa Lava, namun karena ilat jawa(lidah orang jawa) jadi dipelesetkan menjadi goalawa. Namun bukan berarti di Goalawa tidak ada kelelawarnya, ribuan kelelawar bisa wisatawan lihat saat hari menjelang sore atau sekitar jam setengah enam. Kebanyakan wisatawan bertanya," Mana kelelawarnya, kok gak ada kelelawarnya ???
Nah kembali lagi pada kelelawar yang dikenal sebagai binatang malam, jadi pada saat wisatawan datang di siang hari tentu tidak akan melihat kelelawar beterbangan meski di dalam goa. Namun apabila wisatawan masuk goa diantar pemandu dan tanya tentang kelelawar maka akan ditunjukkan dimana ribuan kelelawar itu bersarang. Makin penasaran kan ?? Nah bagi pembaca yang penasaran mending tonton aja cuplikan video berikut ini .