Dona Wahyuni, Sosok Pencetus Kampung Warna Bobotsari

Visit Purbalingga - Sosok gadis asli Bobotsari ini patut menjadi contoh teladan. Meski tantangan yang dialami begitu besar, namun dia bisa membawa banyak perubahan untuk kampung yang dulunya terkesan kumuh. Adalah Dona Wahyuni De Fretes, gadis kelahiran 28 Juni 1989 ini  mampu menggerakkan beberapa pemuda di Kampung Baru Bobotsari untuk memiliki tujuan yang sama, memajukan desanya dengan mengembangkan potensi yang ada hingga tercetuslah Kampung Warna Bobotsari.

Berbagai tantangan ia hadapi dengan penuh kesabaran., tak jarang ia menuai cemoohan bahkan cacian. Namun semua dilalui dengan penuh ketabahan. Tekadnya sudah bulat, menjadikan kampung kumuh menjadi tempat lebih bermakna, menjadikan perilaku warga yang kurang baik menjadi lebih tertata. Sebuah perjuangan luar biasa yang membutuhkan proses panjang ditengah kesibukannya sebagai  bidan di  RS Goeteng Tarunadibrata Kabupaten Purbalingga.

Kampung Warna Bobotsari terwujud berawal dari keprihatinan dona sebagai pencetus adanya kampung warna.  Aktifitas yang ia jalani menjadi seorang bidan membuat ia lebih peka akan pentingnya kesehatan, terutama dilingkungan ia tinggal. Hingga akhirnya kampung yang dulunya kumuh menjadi bersih dan lebih memberikan warna untuk warganya. Tak hanya lingkungan yang jadi prioritas, karakter warga yang identik dengan premanisme, perjudian, narkoba dan minuman keras secara perlahan mulai hilang dengan adanya berbagai aktifitas di Kampung Warna.

Lingkungan yang bersih akan menciptakan hidup masyarakat yang sehat, semua bisa terwujud dengan adanya perjuangan dan kepeloporan seorang tokoh. Dan tidak salah jika akhirnya Dona Wahyuni  terpilih mewakili Kabupaten Purbalingga dalam Lomba Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dona mewakili Kabupaten Purbalingga untuk bidang Sosial, Budaya dan Pariwisata.

Dibawah ini adalah video saat tim juri dari provinsi meninjau langsung ke Kampung Warna.



Sekilas Tentang Berdirinya Kampung Warna Bobotsari
Bobotsari adalah sebuah kota kecamatan di Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Secara geografis berada pada ketinggian ±135 mdpl. Mempunyai batas wilayah  sebagai berikut :
Sebelah selatan  : Kecamatan Mrebet
Sebelah utara       : Kecamatan Karangreja dan Kecamatan Karangjambu
Sebelah timur      :  Kecamatan Karanganyar
Sebelah Barat      : Kecamatan Mrebet.
Luas wilayah 3228ha atau 4,16% dari wilayah Kabupaten Purbalingga.

Bobotsari merupakan salah satu kota di Kabupaten Purbalingga yang menjadi tulang punggung perekonomian sehingga dijuluki sebagai Kota Dagang. Kecamatan Bobotsari dibagi menjadi 16 desa, salah satunya Desa Bobotsari yang menjadi lokasi Kampung Warna. Kawasan Kampung Warna Bobotsari berlokasi tepat bersebelahan dengan PT. Sung Chang Indonesia atau lebih dikenal dengan Pabrik rambut palsu yaitu di JL. Pemuda RW 08, meliputi RT 01, 02 dan 03 dusun Kampung Baru dengan jumlah penduduk sebanyak 891 jiwa. Kampung Warna Bobotsari merupakan kampung wisata pertama di Purbalingga yang menjadi salah satu destinasi wisata yang tak kalah menarik dari wisata-wisata lainya yang ada di Kabupaten Purbalingga.

Awalnya bukan merupakan kampung wisata, melainkan sebuah perkampungan kumuh yang terletak di tengah kota Bobotsari dengan keadaan masyarakatnya yang seolah terisolir dari dunia luar. Minimnya perhatian dari pemerintah desa maupun kabupaten membuat sebagian besar warga mempunyai perilaku menyimpang, sebagaimana yang sering di jumpai pada pemukiman kumuh lainnya yaitu perilaku yang bertentangan dengan norma-norma sosial, tradisi dan kelaziman.

Premanisme, obat-obatan, miras dan perjudian sudah menjadi aktifitas yang sulit di lepaskan dari sebagian besar pemuda di kampung tersebut. Hampir setiap hari, tidak peduli siang atau malam mereka selalu melakukan pesta miras dan obat-obatan. Sebagai seorang tokoh pemuda yang peduli terhadap lingkungannya, dona melihat ada banyak potensi yang dapat di kembangkan untuk memperbaiki taraf  hidup warga.

Hal ini yang menjadi tantangan untuk  dona agar dapat merubah image negatif tersebut. Hal pertama yang  dipikirkan adalah bagaimana cara untuk melakukan pendekatan tanpa membuat mereka merasa tersinggung dan terusik agar dapat menumbuhkan kesadaran dan pemikiran positif dari para pemudanya. Pendekatan awal yang dia lakukan adalah dengan cara sering berkumpul dengan mereka, mendengarkan keluh kesah mereka dan  harus bisa memposisikan diri  sebagai seorang ayah, ibu ataupun kakak untuk mereka. Menasehati tanpa menggurui, mengajari tanpa merasa sok pintar. Sebenarnya, yang mereka butuhkan adalah perhatian dan kasih sayang, bukan cemoohan dari masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut akhirnya dona dapat menggerakan pemuda untuk mengikuti pelatihan di berbagai seminar tentang kerajinan tangan dan kebersihan lingkungan, artinya mereka sebenarnya tidak menutup diri dari hal- hal yang positif. Yang diperlukan hanya melakukan pendekatan secara konsisten. Dona dan para warga kemudian melakukan beberapa kali pertemuan untuk melakukan pemaparan dari ide revitalisasi kampung yang digagasnya. Bermodalkan dana pinjaman kas RW sebesar Rp. 10.000.000 yang merupakan dana jimpitan ronda, kami dan para pemuda memulai proses penataan dan pengecatan kampung.

Hampir semua lukisan 3D dan mural di Kampung Warna adalah hasil karya para pemuda yang dulunya di anggap tidak produktif. Hiasan dari barang- barang bekas juga menjadi pemandangan yang mempercantik Kampung Warna Bobotsari. Pemanfaatan barang- barang bekas sebagai ornamen merupakan salah satu strategi pengelolaan limbah rumah tangga yang bertujuan untuk mengurangi debit sampah di lingkungan tersebut. Perlahan pemukiman kumuh tersebut dapat diubah menjadi lingkungan yang bersih, indah penuh warna warni dengan perilaku warga yang lebih baik dari sebelumnya.

Setelah melalui beberapa minggu proses pengecatan dan penataan, pada tanggal 17 Agustus 2017 bertepatan pada peringatan HUT RI ke-72 dilakukan peresmian yang di sahkan oleh lurah dan camat Bobotsari. Kampung Warna Bobotsari secara resmi dibuka untuk wisatawan sejak tanggal tersebut dari pukul 08.00 WIB – 18.00 WIB pada setiap harinya dengan HTM sebesar Rp. 3.000 dan karcis parkir sebesar Rp 2.000. Dari situlah kami para pemuda kampung berusaha untuk mengembalikan dana pinjaman kas RW yang saya pinjam.

Blog personal untuk berbagi info wisata, traveling, budaya, kuliner, potensi alam dan desa wisata yang ada di Kabupaten Purbalingga .

Disqus Comments