Minggu, 30 September 2018

Tak Klimaks Konser Andra & The Backbone Di Purbalingga

Penampilan memukau Andra and The Backbone
Visit Purbalingga - Malam puncak Festival Gunung Slamet ditutup dengan penampilan Andra And The Backbone pada Minggu, 29/9 di Rest Area Lembah Asri, Desa Wisata Serang Kecamatan Karangreja. Pukul 21.00 Andra And The Backbone naik panggung menghibur penonton yang sejak petang sudah mulai berkerumun menunggu idolanya tampil. Meski udara dingin dan gerimis sejak awal acara,  namun penonton sangat antusias menunggu di depan panggung sembari menikmati kabut lembut di lereng Gunung Slamet.

Grup musik yang digawangi Andra Ramadhan (gitar), Dedy Lisan (vokal) dan Zendy Kusuma (gitar) mengawali penampilan dengan lagu “Muak” versi akustik. Lagu dari albu Season 2 (2008) dan ditampilkan lagi versi akustiknya di album Love, Faith dan Hope (2010) membuat hawa dingin sedikit berangsur hilang. “Oh terbakar hatiku melihat tingkahmu yang selalu begitu” lirik lagu tersebut dinyanyikan Dedy dengan vokalnya yang khas. 

Ratusan penonton termasuk Plt Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi) ikut bernyanyi bersama. Mereka rata rata hafal dengan lirik lagu grup tersebut. Lagu-lagu di album Season 2 (2008) sepertinya menjadi andalan Andra dan rekan rekannya untuk membuat penonton semakin tak merasakan hawa dingin. Lagu “Main Hati” dinyanyikan dengan lembut dan mampu memancing emosi penonton. “Seribu wanita yang pernah singgah, hanya datang dan pergi dan tak ada hati,” lirik lagu ini terkesan picisan namun akrab di telinga penonton.  

Andra And The Backbone berhasil memukau penonton yang datang menyaksikan hingga akhir acara. Lagu "Sempurna" menjadi lagu terakkhir yang dibawakan andra the backbone. Sebenarnya masih ada dua lagu lagi yang akan ditampilkan, namun karena hujan turun semakin deras "sempurna" menjadi penutup konser "Akustik Kabut Lembut"di Festival Gunung Slamet 4 tersebut. Sungguh penampilan yang sempurna walau tak sampai klimak karena hanya sejenak.

Selasa, 18 September 2018

Mengintip Home Industri Olahan Nanas Di Purbalingga

Produk Olahan Nanas Di Purbalingga
Visit Purbalingga - Nanas adalah salah satu tanaman tropis yang tingginya mencapai 5-8 kaki dan menyebar sekitar radius 3-4 kaki, daunnya berujung jarum, dan kulit buahnya kasar dan sedikit tajam. Secara ilmiah, buah ini dikenal dengan nama Ananas Comosus dan termasuk famili Bromeliaceae, dalam genus Ananas. 

Di Kabupaten Purbalingga, salah satu desa penghasil buah nanas terbesar adalah Desa Siwarak Kecamatan Karangreja. Hampir mayoritas penduduknya sekarang beralih ke  petani nanas. Tak heran kalau di Desa Siwarak banyak produk olahan dengan bahan baku buah nanas . Salah satunya adalah Pinne Produk . Industri rumahan ini banyak mengeluarkan produk dengan bahan baku buah nanas, diantaranya : Kerupuk Nanas, Dodol nanas, setup nanas, selai nanas, juice nanas dll. 

Pinne adalah merek dagang yang memproduksi berbagai macam olahan nanas dengan bahan baku buah nanas asli yang berkualitas. Berada di Desa Wisata Siwarak yang mayoritas masyarakatnya adalah petani nanas membuat kami terus berinovasi menciptakan produk-produk bermutu dengan bahan baku nanas. 

Pinne berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan setiap pelanggan dari bisnis lokal maupun interlokal, melalui harga yang kompetitif, kehandalan produk dan standar pelayanan yang memuaskan pelanggan. Distribusi produk kami telah mencapai daerah Cirebon, Indramayu, Tegal, Purwokerto dan Kabupaten Purbalingga sendiri.

Nah ,, bagi anda yang berkunjung ke Golaga atau Goalawa Purbalingga bisa langsung dapatkan produk tersebut disekitar terminal Goalawa, atau bisa datang langsung ke lokasi pembuatan sekalian belajar tentang pengolahan buah nanas. 

Untuk produk pemesanan bisa langsung hubungi No Wa 0878 3700 0869
Produk Lokal Purbalingga

Minggu, 16 September 2018

Dari Kampung Kumuh, Dona Maju Lomba Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Tahun 2018

Tim Juri dari Kementopa meninjau Kampung Warna Bobotsari
Visit Purbalingga - Seorang pemuda disebut sebagai pelopor apabila dia memulai sesuatu yang belum dilakukan oleh orang lain. Jika sesuatu tersebut sudah dimulai orang lain maka dia bukanlah pelopor tapi pelestari. "Pemuda pelopor harus memiliki banyak ide, inovasi dan kreatifitas agar dapat memberikan manfaat bagi lingkungannya," kata H. Barosad. IM.,SH, Ketua Paguyuban Pariwisata Purbalingga kepada Visit Purbalingga disela waktunya saat menunggu tim juri Pemuda Pelopor Tingkat Nasional di Kampung Warna Bobotsari, Sabtu 15/9/2018.

"Dona hari ini membuktikan, generasi milenial yang dengan berbagai macam corak dan pemikirannya masih mempedulikan lingkungannya. Kampung kumuh yang dulunya bernama Kampung Baru berhasil dipersatukan dengan satu ide, satu gagasan yang brilliant hingga tercetuslah nama Kampung Warna Bobotsari. Melalui kreatifitas, ketekunan, keakraban dan silaturahmi yang tak kenal lelah dona  telah berhasil merubah kampung yang dulunya kumuh menjadi kampung yang banyak dikunjungi wisatawan," kata Barosad menambahkan.

Hal senada  juga disampaikan oleh Sugianto, salah satu Juri Nasional Pemilihan Pemuda Pelopor dari Kementrian Pemuda dan Olahraga. "Yang menarik dari Kampung Warna adalah perjuangan  dona merubah kondisi sosial masyarakat kampung baru itu sendiri. Kampung yang dulu kumuh telah berubah menjadi warna warni dan dampak dari warna warni itu mampu merubah kondisi masyarakat dari perilaku buruk menjadi baik," katanya.

"Apa yang dona tulis, apa yang dona paparkan setelah kita survey adalah benar adanya sesuai dengan apa yang tercantum di proposal. Saya tidak berjanji dan memberi harapan dona menjadi juara nasional, saya akan berjuang dan paparan di dewan penyeleksi setelah dari sini .Setidaknya dona telah mampu menjadi yang terbaik di Tingkat Provinsi, " imbuhnya.

Tim Juri dari Kemenpora yang hadir di dampingi Kadinporapar Kabupaten Purbalingga disambut oleh Ketua Paguyuban Pariwisata Purbalingga, Camat Bobotsari beserta jajarannya, anggota Koramil Bobotsari, Polsek Bobotsari dan Karang Taruna Kabupaten Purbalingga  . Kedatangan Tim Juri juga disambut sangat gembira oleh warga Kampung Warna Bobotsari dengan menampilkan berbagai musik tradisional. Tak ketinggalan berbagai makanan dan minuman khas Kampung Warna juga turut disajikan, diantaranya ada Kopi badeg dan jipang kacang .

Secara terpisah Dona Wahyuni De Fretes yang akrab disapa dona, mengaku bersyukur dan lega dapat melewati tahap penilaian secara maksimal. Kini, ditengah kesibukannya sebagai bidan di RS Goeteng, sembari menunggu hasil penilaian dia akan terus berjuang bersama teman-teman demi Kampung Warna. Sebagai motor di Kampung Warna sudah barang tentu akan menyita banyak waktunya, tapi dia akan terus bertekad semaksimal mungkin untuk terus mempertahankan Kampung Warna menjadi lebih baik .